UPDATE NEWS

...

Tuesday, 12 November 2019 07:00

Ayah, Sang Pemimpin | YDSF

Di kalangan pemimpin bisnis dan pengusaha belakangan ada kekhawatiran, mampukah perusahaan yang dirintis dengan cucuran darah dan keringat itu mampu diwariskan melewati generasi ketiga? Kekuatan itu bukan tanpa alasan, ketika ada pameo yang mengatakan, generasi pertama merintis, generasi kedua membesarkan, generasi ketiga menghancurkan. Biasanya kehancuran itu dipicu oleh perebutan harta warisan karena ketidakmampuan mewariskan kepemimpinan perusahaan di tengah badai persaingan. Leader as a father adalah spirit mewariskan kepemimpinan kepada generasi penerus setulus seorang Ayah yang mengkader anaknya.

Leader as a father adalah prinsip kepemimpinan yang menempatkan seorang pemimpin layaknya seorang ayah dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Pemimpin yang menjalankan peran sebagai seorang ayah akan memiliki ketulusan hati untuk selalu menyayangi, melindungi dan membela anak-anaknya. Tidak ada yang lebih membanggakan seorang ayah selain melihat anak-anaknya lebih sukses, lebih hebat dan lebih berhasil ketimbang dirinya.Tidaklah mungkin seorang ayah mencurigai anaknya sendiri dan menganggapnya saingan yang membahayakan kariernya.

Pemimpin yang bersifat kebapakan (leader as a father) sangat perlu dikembangkan mengingat tidak sedikit para manajer kerdil di sebuah perusahaan yang tidak ingin staf atau supervisor di bawahnya bisa mendampingi atau mendekati posisi dia. Karena mereka berpikir, “Kalau saya membuat mereka maju, janganjangan jabatannya malah tergeser oleh anak buahnya.”

Pemimpin hebat pasti tidak egois dan tidak egosentris, pemimpin yang tidak hanya sukses untuk dirinya tapi dia juga mampu mengantar sukses generasi (pemimpin) penerusnya. Artinya pemimpin yang tidak mengarahkan tindak tanduknya melulu untuk kepentingan pribadi, bukan pula untuk pujian pribadi, promosi pribadi, mendapatkan kekayaan pribadi, meraih kehormatan pribadi atau memuluskan karier pribadi. Semuanya itu mungkin penting, namun di atas itu semua misi hakiki seorang pemimpin adalah melayani orang-orang yang dipimpinnya dan menjadikan mereka dan organisasinya lebih baik.

Seorang pemimpin dikatakan signifikan jika dalam hatinya menyimpan tekad (the spirit of loving), bagaimana saya bisa sukses dan bisa membuat orang lain berhasil seperti dirinya -bahkan lebih hebat lagi. Intinya siap sukses juga siap suksesi, artinya siap menjadi pribadi yang sukses tetapi juga siap ‘dilengserkan’ atau digantikan oleh penerusnya kapan saja.

Pengalaman konkret kami dalam mewariskan spirit kepemipinan adalah, ketika saya menjadi seorang supervisor maka akan saya didik dan saya bina staf saya agar menjadi supervisor yang baik. Lantas dimana posisi saya saat itu? Ketika mereka menjadi supervisor, tentu saja saya naik menjadi manajer. Ketika saya menjadi seorang manajer maka dengan ketulusan seorang ayah akan saya didik. Saya latih dan saya bina agar staf saya menjadi manajer yang baik. Lantas dimana posisi saya saat itu? Ketika mereka menjadi manajer, tentu saja saya akan menjadi  general manager   (GM). Ketika saya seorang GM, maka dengan spirit seorang ayah saya didik para manajer menjadi GM yang baik. Dan posisi saya saat itu sudah disiapkan menjadi direktur. Begitu seterusnya, kehidupan akan terus memenangkan kita, dia akan terus membawa kita kepada keberkahan.

Jadi, ketika Anda menjadi seorang pemimpin pada sebuah perusahaan, marilah kita bina anak buah kita untuk menjadi pemimpin. Dan ketika mereka bisa menjadi pemimpin, maka Anda sudah menjadi pemimpin di atas mereka. Setelah usai menggapai sukses pribadi, bersiaplah dengan pekerjaan yang lebih signifikan yaitu mengantar sukses lebih banyak anak muda generasi milenial di bawah Anda.

Estafet kepemimpinan tersebut secara otomatis akan terjadi dengan catatan, jika Anda menjadi seorang pemimpin shiddiq (jujur, tidak curang dan culas), amanah (visioner) dan lebih utama jika dilengkapi dengan sifat fathonah (kompeten) dan tabligh (inspiring).

Seorang pemimpin yang sukses belum tentu berkah tetapi seorang pemimpin yang signifikan pasti berlimpah berkah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Beliau tidak hanya sukses untuk dirinya, tetapi juga bisa membuat sukses banyak sahabat di sekitarnya. Tengoklah kehebatan dan kearifan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, keberanian Umar bin Khattab, kedermawanan Utsman bin Affan dan kecerdasan Ali bin Abi Thalib adalah kontribusi hasil didikan tulus kepemimpinan nabi.

Sehingga sepeninggal Rasulullah, dakwah terus berkembang pesat bukan hanya di kawasan Arab, bahkan kawasan dunia internasional. Bahkan di zaman khalifah Umar, dakwah bisa tersebar di Persia sampai ke Spanyol, suatu hal yang tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Yang menarik para gubernurnya adalah para sahabat yang ‘ngaji’ bersama Rasulullah di Masjid Nabawi. Di masa itu para sahabat berbagi wilayah kekuasaan oleh orang-orang shalih berkualitas leader. Kepemimpinan Rasulullah laksana ayah yang melahirkan leader bukan follower, melahirkan driver bukan passanger.

 

Sumber: Majalah Al Falah Edisi Januari 2018

Oleh: Misbahul Huda (Penulis dan Motivator)

 

Baca juga:

MENYAMBUT HARI ANAK UNIVERSAL, YDSF DAN KARTUNESIA GELAR KONTES KARTUN

ANAK MUDA DI RUMAH ALLAH | YDSF

Teladan Kepemimpinan Ayah dalam Keluarga | YDSF

ADAB KOMUNIKASI ORANGTUA DAN ANAK | YDSF

Menghadapi Kenakalan Anak Milenial dengan Parenting Islami | YDSF

INILAH KUNCI SUKSES BUNDA YATIM MENDIDIK ANAK | YDSF

Mendidik Generasi Berdaya Juang Pahlawan | YDSF

Mengasuh Anak Generasi Milenial | YDSF

Mengenal Generasi Strawberry | YDSF

Share: