UPDATE NEWS

...

Wednesday, 18 December 2019 08:00

Aan Yuhaniz, Hafidzah Berprestasi | YDSF

Aan Yuhaniz tumbuh berkembang menjadi pribadi yang luar biasa. “Waktu kecil saya sudah ingin menjadi penghafal al-Qur’an,” ujarnya memulai cerita. Dukungan keluarga memudahkan langkahnya. Terlebih ketika kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ia ikut komunitas penghafal al-Qur’an.

Sederet prestasi telah diraih oleh hafidzah kelahiran 31 Desember 1983 ini. Di antaranya Juara Harapan 1 tafsir Bahasa Inggris MTQ Mahasiswa 2005, Juara 1 tafsir Bahasa Inggris MTQ Kota Malang dan Kabupaten Malang pada tahun yang sama. Aan juga pernah empat kali juara MTQ di Kabupaten Cirebon pada tahun 1998—2002.

Aan Yuhaniz bercerita, akhir 2008 ketika proses menghafal kurang lima juz, ia merasakan sakit di punggung sebelah kiri. Saat itu dia masih nyantri di Pondok Tahfidz Pesantren Al-Ghozali Majalengka. “Saya menganggap karena kecapekan sering duduk. Lalu lama-lama sekitnya menjalar ke tulang punggung, sampai untuk mengangkat kaki terasa susah,” tuturnya. Setelah dirontgen ternyata terdapat kelainan pada tulang belakangnya.

“Tulang belakang saya bengkok, disarankan opname, tetapi kami memilih rawat jalan saja,” lanjutnya.

Pertengahan 2009, Aan menikah dengan Afif Ma’mun dengan kondisi punggung sudah kaku dan terasa sakit. “Bangun dari tempat tidur bisa. Tetapi kalau ke kursi roda minta bantuan suami,” ujarnya.

Tepat Juni 2010 kedua kaki Aan Yuhaniz lumpuh total. Pada saat akhirnya tak bisa berjalan sama sekali, ia dirawat di rumah sakit di Cirebon selama seminggu. Setelah dirontgen ternyata terdapat flek di paru-paru Aan.

“Kata dokter, penyakitnya dari paru-paru menyerang ke tulang belakang. Ada kemungkinan ada syaraf terjepit di tulang belakang,” paparnya.

Butuh biaya tidak sedikit untuk mengobati penyakitnya. “Menurut dokter butuh sekitar Rp 100 juta agar bisa berjalan kembali. Katanya susah kalau untuk jalan normal kembali karena sudah terlalu lama,” kata perempuan yang kini aktif menjadi pengajar al-Qur’an ini.  

Aan Yuhaniz adalah salah satu penerima program ZUM (Zakat Untuk Mustahik) YDSF. Sejak tahun 2017 YDSF secara rutin memberikan bantuan senilai Rp 1.000.000 kepadanya.

Aktif Mengajar

Bermula dari cita-cita ayah mertua, H. Musta’in, untuk mendirikan Madrasah Quran. Ayah mertua memiliki 7 anak. Lima di antaranya hafidz/hafidzoh (penghafal quran). Ayah ingin memfasilitasi putra putrinya untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmunya di bidang tahfidz Al Qur’an. Ayah membeli sebidang tanah yang kemudian diwakafkan untuk mendirikan TPQ.

Tahun 2006, TPQ Al Azhar mulai berdiri dan disambut antusias masyarakat. Dalam keterbatasan sarana dan prasarana TPQ ini berusaha mendampingi anak-anak belajar baca tulis Al Qu’ran. Pertengahan 2014, suami, Afif Ma’mun, mulai menata kelayakan sarana dan memperbaiki sistem.

“Alhamdulillah, akhir tahun bisa mendirikan 4 kelas dengan dukungan dana sumbangan wali santri dan para dermawan,” kata Aan. Di penghujung 2014 ia mulai berpartisipasi dalam TPQ. Ia mengisi waktunya dengan mengajar santri khusus untuk program tahfidz. Pada awalnya, hanya untuk  mengalihkan perhatiannya agar tidak fokus pada sakit yang ia derita. 

“Saya berpikir apa yang bisa disumbangkan untuk umat. Dengan sedikit pengetahuan tentang alif ba ta, saya coba mengembangkan dengan cara mengajarkannya. Karena guru pernah berkata bahwa ilmu itu akan berkembang atau bertambah jika diajarkan dan diamalkan. Dan kata pepatah Arab: Ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah,” ucapnya.

Baginya, tidak mengapa lelah sedikit, karena ia yakin kelak akan berbuah barokah dan manfaat. Bukan hanya di dunia, namun kelak di akhirat. Ia justru malu saat santri-santrinya semangat mengaji, namun ia kurang bersemangat dalam mengajar. Maka ia terbawa bersemangat. “Sebenarnya merekalah yang memberi banyak pelajaran pada saya,” tuturnya.

Ketika anak-anak mulai kendor semangatnya, ia harus kreatif mencari cara agar mereka nyaman dan bersemangat. “Biasanya saya modifikasi pelajaran dengan permainan yang isinya masih tentang materi Quran. Terkadang saya kasih reward santri yang bisa tepat dan cepat menjawab pertanyaan. Atau saya isi dengan cerita pengalaman waktu saya kecil atau tentang kisah para nabi. Alhamdulilah mereka pun kembali semangat,” terangnya.

Seiring bertambahnya usia, TPQ semakin berkembang. Saat ini berubah menjadi pesantren al-Qur’an Mamba’ul Karomah. Akhir tahun 2015, pindah ke belakang rumahnya. Bangunan dipakai untuk KBM Al Qur’an. Ia dan suami menempati sebuah kamar sekadar untuk istirahat.

Ia mulai menata dan terus mencari ide untuk perkembangan TPQ. Berbagai program kegiatan pun mulai dijalankan. Di antaranya: mengaji siang (14.00—16.00), gerakan sholat ashar berjamaah, madrasah diniyah (16.00—16.30), mengaji malam (17.00—20.00), mengaji shubuh, kegiatan rutin istighotsah (19.30), kegiatan bulanan (jam’iyah sima’an Al quran), kegiatan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), dan program tahfidz Al Qur’an. Kegiatan istigotsah untuk mendekatkan wali santri dengan para ustadz-ustadzah.

Di sela-sela kesibukannya mengajar di pesantren, Aan Yuhaniz masih menyempatkan murojaah (mengulang) hafalannya ketika pagi dan sore hari. Hal ini ia lakukan untuk menjaga hafalannya. (Habibi)

 

Baca juga:

Pameran Kartun Opini Peduli Anak Indonesia YDSF ft. Kartunesia

INTERAKSI ANAK DAN PONSEL WARNAI KONTES KARTUN YDSF

MELUANGKAN WAKTU UNTUK ANAKKU | YDSF

WAKTU TERBAIK TERKABULNYA DOA | YDSF

Menghadapi Kenakalan Anak Milenial dengan Parenting Islami | YDSF

Share: