UPDATE NEWS

...

Tuesday, 13 February 2018 12:00

HUTANG SEBAGAI GAYA HIDUP YANG SALAH

Islam menganjurkan hidup sederhana. Sederhana itu adalah yang pertengahan, yaitu tidak mewah dan tidak pula kikir. Hidup sederhana itu dianjurkan oleh Islam supaya umat Islam tidak menghadapi kesempitan hidup. Sempit karena hartanya habis untuk berfoya-foya dan sempit karena dibenci masyarakat akibat sifat kikir yang dimilikinya.

Dalam Al-Qur'an Allah SWT, memberikan bimbingan tersebut dengan jelas dalam firmannya : 

Artinya : "dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal," (QS. Al Isra' : 29)

Senada dengan ayat diatas, Allah menggambakan cara hidup "ibadurrahman" (hamba-hamba Allah yang dikasihiNya) yang sederhana dan pertengahan dengan firmanNya :

Artinya : "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian," (QS. Al Furqan : 67)

Allah SWT tidak menyukai segala sesuatu yang berlebih-lebihan dalam perkara-perkara yang jahat maupun dalam hal kebaikan dan amal ibadah sekalipun. Sifat kikir itu harus itu harus dikikis habis dari kita, karena itu jelas tidak baik. Sifat pemurah yang berlebihan juga harus dihilangkan karena itu membinasakan diri. Sifat yang paling baik adalah sifat pertengahan, yaitu sederhana dalam menjalani kehidupan ini. Sifat sederhana bisa menghindarkan orang dari masalah hutang, karena orang yang sederhana tidak berbelanja melebihi pendapatannya, dan ia tidak akan membelanjakan hartanya kecuali untuk sesuatu yang perlu dan tepat waktu. Orang yang sederhana tidak mungkin bermewah-mewahan, dan dalam masa yang sama, ia tidak mungkin pelit terhadap orang lain.

Sifat sederhana ini telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai contoh untuk kita semua. Kehidupan Nabi Muhammad SAW itu sangat sederhana sekali, padahal beliau pernah mendapat tawaran yang sangat menarik dari kaum musyrikin Mekkah dan dari Allah SWT.

Kaum musyrikin Mekkah memberikan tawaran berikut :"Hai Muhammad, jika kamu berdakwah ini karena ingin menjadi raja bagi kami, maka kami akan menjadikanmu sebagai raja kami dengan syarat kamu meninggalkan dakwah Islam. Jika kamu berdakwah karena ingin menjadi orang paling kaya di kalangan kami, niscaya kami kumpulkan harta kami untuk kami berikan kepadamu, tapi dengan syarat kamu menghentikan dakwahmu ini". Apa jawab Nabi mendengar tawaran ini? Tentu saja beliau menolak. Apa gunanya menjadi raja atau menjadi orang kaya jika yang dipertaruhkan adalah dakwah.

Allah juga pernah memberi tawaran kepada baginda Rasulullah SAW : "Hai Muhammad, jika engkau menghendaki, Kami akan jadikan lembah Mekkah ini menjadi emas untukmu". Tawaran ini lebih menarik karena tidak ada yang dipertaruhkan. Namun apa jawab Nabi mendapat tawaran Allah SWT tersebut? Baginda menolak tawaran itu. Beliau justru ingin menjadi hamba Allah yang suatu hari dalam keadaan lapar sehingga dapat mengingat Allah dan bersabar, dan pada hari lain kenyang sehingga dapat memuji dan bersyukur kepadaNya.

Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah juga mendapat tawaran sangat menarik dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril as, yaitu baginda disuruh memilih menjadi Nabi hamba atau Nabi raja. Namun, dengan tegas beliau memilih menjadi Nabi Hamba, yakni menjadi hamba atau rakyat jelata, tidak seperti Nabi Sulaiman dan Daud misalnya, keduanya itu Nabi dan pada waktu yang sama keduanya adalah raja.

Tawaran-tawaran tersebut Nabi Muhammad SAW tolak, supaya memberi suri tauladan bagi kita semua dalam menghadapi kehidupan dunia yang sukar ini. Bayangkan jika beliau memilih menjadi orang kaya atau menjadi raja, maka kita umatnya tidak akan bisa meniru gaya hidupnya yang mewah. Nabi memilih menjadi orang yang sederhana, sehingga jika kita membaca sirah (riwayat hidup) beliau kita akan terharu betapa sederhananya kehidupan beliau itu.

Nabi beserta keluarganya pernah dua bulan berturut-turut tidak makan minum apa-apa kecuali kurma dan air. Nabi pernah ditegur Umar karena bekas tikar yang menempel di badannya setelah tidur diatas tikar tersebut. Rumah beliau itu hanya berupa hujurat (kamar-kamar), sehingga ketika Nabi sholat malam, terpaksa harus memindahkan kain Aisyah yang melintang di depan beliau. Nabi wafat ketika memakai baju dan kain sarung yang kasar, dan beliau tidak meninggalkan harta warisan. Demikianlah kehidupan Nabi yang serba sederhana. Bahkan beliau itu juga diriwayatkan pernah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Kita yang hidup di zaman sekarang ini hampir tidak mendapati lagi kehidupan yang sederhana. Masing-masing kita ingin hidup enak dan mewah. Namun masalahnya, seringkali keinginan kita untuk hidup senang tersebut akan menjerat diri sendiri. Belum mampu membeli monil umpamanya, maka kita akan berusaha membelinya dengan cara kredit alias hutang. Dan cara angsuran atau hutang ini juga kita lakukan terhadap barang-barang alainnya, sehingga seluruh hidup kita digunakan untuk membayar hutang. Begitu lunas atau bahkan belum lunas membayar kredit suatu barang-kita mengkredit barang lainnya.

 

Kini hutang benar-benar telah menjadi gaya hidup manusia modern. Padahal, bukankah hidup itu akan tenang tanpa hutang?

 

Oleh : Dr. H. Muchammad Ichsan, Lc. MA  

Share: